Imam Al-Ghazali, dalam bukunya Asrār al-Shaum
melihat puasa itu dalam tiga macam; puasa orang awam, puasa orang khusus, dan
puasa orang sangat khusus. Antara ketiga bagian ini tentu saja saling berbeda.
Puasa orang awam adalah puasa yang lebih kepada menahan makan dan minum.
Sedangkan puasa orang khusus adalah puasa yang mampu menahan anggota badannya
dari perbuatan dosa. Sedangkan puasa orang yang sangat khusus adalah puasa yang
selain mampu menahan makan, minum, perbuatan dosa, tapi juga mampu menahan hati
dan pikirannya dari sesuatu selain Allah.
Mekanisme puasa seperti ini jelas menyiratkan
adanya fungsi keseimbangan jasmani-ruhani; jiwa dan raga. Orang yang berpuasa
seharusnya mampu berada dan menjadi manusia yang seimbang dan harmonis. Dia
tidak ditarik oleh sikap hedonistic dan materialistic kehidupan sehingga
melupakan spiritualitas kepada Tuhannya. Dia juga tidak hanyut dalam kehidupan
spiritual hingga akhirnya lalai dan terbengkalai dalam hidup dunianya.
Dimensi puasa seperti inilah yang pernah
disinggung Nabi ketika ia mengatakan bahwa “Banyak orang yang berpuasa tidak
mendapat balasan apa-apa kecuali lapar dan dahaga”. Menyinggung hadis ini,
al-Ghazali kemudian mengomentari dengan mengatakan bahwa menurut petuah para
ulama, “Ada orang yang berpuasa tapi seperti tidak puasa; dan ada orang yang
tidak puasa tapi seperti orang yang berpuasa. Orang yang tidak puasa tapi
seperti orang puasa adalah mereka yang selalu menjaga dan memelihara anggota
badannya dari perbuatan dosa, serta selalu menjaga makan dan minumnya; dan
orang yang berpuasa tapi seperti tidak berpuasa itu adalah orang yang selalu lapar,
haus serta tidak mampu menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan dosa”
(al-Ghazali; Asrar al-Shaum; 51).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar