Jumat, 27 Juli 2012

guruku



KH. ALI UMAR THOYYIB (1952-2008)



Tidak ada yang menyangka bahwa nama ini adalah tokoh penting dalam penyebarluasan Ratib al-Haddad di kota empek-empek, Palembang. Majelis Taklim Al-Awwabin yang didirikannya pada tahun 1985 kini menjadi sentral pembacaan Ratib al-Haddad. Setiap malam minggu dan malam ke 14 bulan Hijriyah, ratusan kaum muslim dari berbagai penjuru kota Palembang, baik tua ataupun muda mendatangi majelisnya untuk turut berzikir dan membaca Ratib al-Haddad bersama-sama. Mereka sangat antusias dan semangat mengikuti tahap demi tahap pembacaannya yang dimulai dari jam 8 sampai jam 11 malam. Di selingi ceramah dan tausiyah oleh para ulama, acara pembacaan Ratib al-Haddad menjadi lebih istimewa dan menarik. Inilah yang membuat Malam 14-an ini semakin lama semakin digemari masyarakat kota Palembang.

Berkah Susuan
KH. Ali Umar Thoyyib dilahirkan di Palembang pada tanggal 9 November 1952. Ayahnya, Umar bin Thoyyib dan ibunya Zainab binti Abdullah Shodiq memberikan nama kepadanya dengan nama Muhammad Ali al-Mukarrom. Ketika masih kecil, Ali menjadi saudara susuan kepada salah satu keluarga ‘Alawiyin bangsa al-Habsyi di pesantren al-Riyadh dan keluarga Bin Syahab di kampung Muaro 10 Ilir Palembang. Sudah menjadi tradisi, saat itu banyak kalangan pribumi yang ingin mendapatkan berkah dari ikatan persaudaaraan mereka dengan keturunan Nabi. Ali kecil mendapatkan berkah persaudaraan dengan keluarga habaib yang kemudian membuatnya memiliki hubungan istimewa dengan seluruh kalangan Alawiyin kota Palembang.

Berkah Habib
K.H. Ali Umar Thoyyib memulai pendidikan formalnya di Madrasah Al Khoiriyah 3 Ilir Palembang. Ia juga kemudian melanjutkan pendidikannya ke Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Palembang. Tahun 1970, ia mulai menjalani pendidikan agamanya di Pesantren Darul Hadits Al Faqihiyyah Malang di bawah asuhan Habib ‘Abdullah Bin Abdul Qadir Bin Ahmad Bil Faqih. Dari habib Abdullah Bilaqih, ia mendapatkan banyak pengetahuan dan pengalaman spiritual. Salah satunya adalah silsilah tarekat ‘Alawiyah yang bersambung langsung kepada Nabi Muhammad SAW.

Tahun 1975 Ali Umar Thoyyib kembali ke kota Palembang dan mulai mengajar di Pesantren al-Riyadh Palembang sampai tahun 1983. Di sinilah ia mulai mengajar dan mengembangkan ilmu yang diperolehnya dari tanah Jawa. Di sini pulalah, bersama Habib Ahmad al-Habsyi, ia membimbing para murid dan santrinya. Di antara nama-nama yang saat ini cukup akrab di telinga kita adalah Habib Noufal bin Abdullah al-Kaf (Sukabumi), Habib Umar Abdul Aziz bin Syahab (Palembang) dan Habib Naqib bin Muhamamd bin Syekh Abubakar (Bekasi). Semuanya adalah pimpinan di pondok pesantrennya masing-masing. Selain mereka, tentu saja ada banyak nama yang tidak bisa kita sebutkan satu persatu. Mereka tersebar di seluruh wilayah Sumatera bahkan sampai ke Malaysia dan Tailan.
Tahun 1984, ia diberikan kepercayaan untuk mengelola dan memimpin sebuah sekolah yang bernama Madrasah Diniyah Awwaliyah Darul Muttaqin di bilangan 8 ilir Palembang. Di sekolah inilah, ratusan siswa dan murid di kota Palembang mengenyam pendidikan keagamaan darinya. Saat itu, Madrasah Diniyah Darul Muttaqien sudah mampu memberikan pendidikan keagamaan yang setara dengan kurikulum pesantren. Tidak heran, sekalipun banyak santri dan muridnya pada saat yang sama juga bersekolah di SD ataupun SMP, tetapi mereka sangat antusias belajar ilmu-ilmu keislamanan seperti nahwu-shorof, hadis, akidah-akhlak, dan sejarah Islam.
Pada tahun ini juga atas perintah Habib Alwi bin Ahmad Bahsin Palembang, guru dan pembimbing spiritualnya, ia diserahi tugas untuk berdakwah kepada masyarakat luas. Maka, untuk mewadahi dakwahnya di tengah masyarakat itulah akhirnya dibuatlah Majelis Taklim Awwabien. Dari sinilah ia mulai mengajak masyarakat untuk membaca Ratib al-Haddad.

Berguru Kepada Habaib
K.H Ali Umar Thoyyib selalu menyempatkan diri untuk mengambil berkah kepada para habaib yang hidup di masanya. Tercatat ada banyak habaib yang menjadi tempat ia berguru dan menimba ilmu, seperti Habib Abdullah bilfaqih (Malang); Habib Alwi bin Ahmad Bahsin (Palembang); Habib Muhsin Al-Atthas (Jakarta); Kyai Haji Buya Yahya Azhari (Bandung); di sini ia mendapatkan khirqah dan silsilah tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah; dan Kiayi Bahri Bin Pandak – Tanjung Atap, Palembang.
Selain mereka, KH Ali Umar Thoyyib juga sempat bertabarruk kepada para ulama seperti Habib Muhammad bin Alwi Al-Maliki (Makkah); Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul); Habib Ahmad bin Abdullah Al-Atthas; Habib Ali bin Husin Al-Atthas dan Habib Luthfi bin Yahya (Pekalongan).

Warisan tiga kitab
Dakwah yang ia berikan kepada masyarakat tidak saja dilakukan di masjid, tapi juga di dalam ruangan kelas di sekolah ia yang kelola. Paling tidak selama satu minggu, ia tiga kali memberikan pelajaran  keagamaan kepada masyarakat. Ada tiga kitab yang ia pakai, yaitu Risalah al-Mu’awanah karangan habib Abdulah al-Haddad, Hidayat al-Salikin karangan Syekh Abdus Shamad al-Falimbani dan Ihya Ulumuddin karangan Imam al-Ghazali.
Dalam memberikan penjabarannya kepada masyarakat, ia selalu menyampaikannya dengan bahasa yang sederhana disertai tamsil dan ungkapan yang ringan. Ia juga tidak segan mengkritik tingkah laku masyarakat dengan guyon dan gurauannya. Apalagi ketika ia membuat rangkuman isi kitab kuning yang dipelajari dalam bentuk skema atau bagan, membuat orang yang belajar kepadanya menjadi lebih faham dan mengerti. Karena itulah, lambat laun pengajian malam nya dipenuhi oleh mereka yang haus untuk menimba ilmu kepadanya
Rangkuman tiga kitab itulah yang kemudian ia bukukan menjadi satu buku dalam Tuhfat al-Awwabin min kutubi al-salaf al-sholihin. Dengan memuat hampir 150 halaman, rangkuman tiga kitab itu seolah menjadi satu-satunya warisan intelektual yang sangat istimewa dari diri KH Ali Umar Thoyyib.

Menyebarkan Doa
Salah satu dakwah KH Ali Umar Thoyyib juga dilakukan dengan cara menyebarkan selebaran doa. Biasanya doa-doa yang ia ambil dari kitab para ulama terdahulu itu bersisi wirid dan zikir-zikir pilihan. Kadang ia juga menuliskan doa itu dengan bahasa Indonesia untuk lebih mudah dibaca masyarakat. Ia sendiri yang membiayai foto copy doa itu.
Dakwah sepert ini ternyata sangat bermanfaat bagi masyarakat. Dari mereka yang tidak pernah beramal, kini menjadi muslim yang selalu menyiapkan waktunya untuk membaca zikir dan wirid. Dalam satu harapannya, ia ingin masyarakat itu sadar akan pentingnya beribadah kepada Allah dengan ikhlas dan istiqomah. Dakwah inilah yang seolah-olah menjadi amal jariah untuk KH. Ali Umar Toyyib. Setiap hari, surat al-Fatihah serta doa yasin dan tahlil dibacakan oleh hampir semua murid dan pencintanya.
Ia meninggal dan dikuburkan di pemakaman umum Kandang Kawat, Palembang. Ribuan orang menyemut turut mengambil berkah terakhir. Ungkapan belasungkawa disampaikan oleh kerabat dan kalangan pajabat. Kini, tidak ada lagi guru dan orang tua yang selalu mengayomi dan menyayangi. []

Rabu, 25 Juli 2012

doa iman

allhumma la mani'a li ma a'thoita
wa la rodda li ma qodhoita

ya Allah
tidak ada yang mampu menahan
apa yang akan Engkau berikan
dan tidak ada yang mampu menolak
apa yang akan engkau putuskan

boleh dibaca sehabis solat...

Minggu, 22 Juli 2012

ilmu yaqin dan ilmu iman


ILMU YAQIN & ILMU IMAN
Oleh : KH. Ali Umar Thoyyib (w. 2008)

Sekalipun banyak orang yang beriman kepada Allah, tetapi ada kalanya mereka masih kurang yakin dengan ketentuan Allah. Orang yang miskin, sekalipun ia tahu bahwa ia sedang mendapatkan ujian dari Allah, kadang hatinya masih saja tidak percaya bahwa harta dan rezki itu adalah milik Allah. Ia tidak menghubungkan kemiskinannya dengan kekuasaan dan kehendak Allah. Ia juga tidak mengambil pelajaran dan hikmah. Baginya, kemiskinannya karena keadaan hidup yang memang sulit. Ia menghubungkan kemiskinannya bukan kepada Allah.
Menghubungkan segala sesuatu kepada Allah adalah inti daripada ilmu yakin; yaitu pengetahuan yang membawa kepada keyakinan. Ilmu yakin bersifat teoritis. Sepanjang pengetahuan manusia, sepanjang itulah keyakinannya. Jika manusia mengetahui (mengenal) Allah, maka pastilah keyakinannya akan bertambah. Hanya saja manusia saat ini banyak yang tidak mau lagi mengenal dan mengetahui Allah. Jadinya, mereka banyak yang tidak yakin dengan “takdir” Allah.
Ilmu yakin itu sendiri memiliki dua fungsi; pertama, menguatkan keimanan kita kepada masalah-masalah yang ghaib (metafisik); kedua, membuat amal ibadah kita menjadi lebih baik. Iman kepada yang gaib, termasuk di dalamnya iman kepada malaikat, surga, neraka dan sebagainya, cenderung menipis karena kesibukan dan kelalaian kita.
Orang bisa saja kurang percaya dengan ancaman siksa kubur dikarenakan ilmu tentang alam kubur tidak pernah ia pelajari. Orang juga bisa kurang percaya dengan kenikmatan surga, sebab ia tidak pernah belajar bagaimana suatu amal dapat membuat ia masuk dalam surga. Orang juga kadang tidak tahu bahwa amal ibadahnya bisa ditingkatkan menjadi lebih baik lagi. Tetapi bagaimana caranya, orang masih bingung. Ini disebabkan karena ia tidak belajar sehingga ia tidak yakin.
Ilmu yakin, pada hakikatnya sama dengan ilmu iman. Orang yang yakin pastilah ia beriman. Dan orang yang beriman, maka hasilnya adalah keyakinan. Untuk mewujudkan yakin dan iman, maka kita perlu menggunakan dua hal, yaitu telinga dan hati; dan melakukan dua metode yaitu i’tibar (mengambil pelajaran) dan beramal sesuai dengan ketentuan Allah swt.
Telinga, bisa kita gunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah. Dalam proses inilah kita akan selalu terhubung dengan ketentuan Allah. Sedangkan hati dapat digunakan untuk menyaksikan (musyahadah) kebesaran Allah.
Untuk menggunakan hati dan telinga, kita juga harus mengetahui metodenya. Cara yang paling utama adalah i’tibar (merenungi) kebesaran Allah. Cara ini diperlukan untuk memberikan informasi bahwa segala sesuatu yang kita fahami akan beakhir pada satu kesimpulan karena kekuasaan dan rahmat Allah. Sedangkan metode beramal sesuai dengan ketentuan Allah akan menghasilkan suatu sikap disiplin dan kepatuhan kepada Allah. Artinya, amal ibadah yang kita lakukan dan sesuai dengan garis besar ketentuan Allah pasti membawa kepada keyakinan akan janji Allah.
Dari sinilah kita melihat bahwa keyakinan kita yang terbentuk melalui sebab dan metode yang kita lakukan, insya Allah dapat membuahkan empat hasil, yaitu; hati yang tenang (sakinah), hati yang tenggelam untuk Allah, hati yang kembali kepada Allah dan hati yang selalu berharap ridha Allah.
Hasil seperti inilah yang sesungguhnya menjadi bagian penting dari tingkatan keyakinan (darojatul yaqin) manusia yang pernah diuraikan oleh Habib Abdullah al-Haddad, yaitu :
1.     Derajat ashabul yamin; yaitu orang-orang yang masuk dalam kategori ahli surga.
2.     Derajat al-‘Arifin al-Muqarrabin; yaitu orang-orang yang ahli makrifat dan sangat dekat kepada Allah.
3.     Derajat al-Anbiya` dan Mursalin; yaitu para nabi dan rasul.

Hanya saja, dari tingkatan keyakinan, di manakah kita berada ? Apakah kita masuk dalam kategori kesatu, kedua ataukah ketiga ? Atau, apakah kita memang tidak pernah masuk dalam tiga kategori ini mengingat hati kita tidak pernah tenang, tidak pernah sibuk, tidak pernah terhubung dan tidak pernah berada dalam ridha Allah ?
Untuk itulah kita perlu mengutip perkataan Lukmanul Hakim, bahwa “Tidak akan kuat (kita) beramal itu kecuali dengan keyakinan; dan tidak akan beramal seorang manusia kecuali dengan kualitas keyakinannya”. Dengan demikian, untuk memiliki ibadah yang berkualitas, maka kita harus memiliki keyakinan dan keimanan yang berkualitas juga.[]

Sabtu, 21 Juli 2012

puasa sangat khusus

Imam Al-Ghazali, dalam bukunya Asrār al-Shaum melihat puasa itu dalam tiga macam; puasa orang awam, puasa orang khusus, dan puasa orang sangat khusus. Antara ketiga bagian ini tentu saja saling berbeda. Puasa orang awam adalah puasa yang lebih kepada menahan makan dan minum. Sedangkan puasa orang khusus adalah puasa yang mampu menahan anggota badannya dari perbuatan dosa. Sedangkan puasa orang yang sangat khusus adalah puasa yang selain mampu menahan makan, minum, perbuatan dosa, tapi juga mampu menahan hati dan pikirannya dari sesuatu selain Allah.
Mekanisme puasa seperti ini jelas menyiratkan adanya fungsi keseimbangan jasmani-ruhani; jiwa dan raga. Orang yang berpuasa seharusnya mampu berada dan menjadi manusia yang seimbang dan harmonis. Dia tidak ditarik oleh sikap hedonistic dan materialistic kehidupan sehingga melupakan spiritualitas kepada Tuhannya. Dia juga tidak hanyut dalam kehidupan spiritual hingga akhirnya lalai dan terbengkalai dalam hidup dunianya.
Dimensi puasa seperti inilah yang pernah disinggung Nabi ketika ia mengatakan bahwa “Banyak orang yang berpuasa tidak mendapat balasan apa-apa kecuali lapar dan dahaga”. Menyinggung hadis ini, al-Ghazali kemudian mengomentari dengan mengatakan bahwa menurut petuah para ulama, “Ada orang yang berpuasa tapi seperti tidak puasa; dan ada orang yang tidak puasa tapi seperti orang yang berpuasa. Orang yang tidak puasa tapi seperti orang puasa adalah mereka yang selalu menjaga dan memelihara anggota badannya dari perbuatan dosa, serta selalu menjaga makan dan minumnya; dan orang yang berpuasa tapi seperti tidak berpuasa itu adalah orang yang selalu lapar, haus serta tidak mampu menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan dosa” (al-Ghazali; Asrar al-Shaum; 51).

Jumat, 20 Juli 2012

hari pertama puasa

ini hari, ba'da subuh, aktivitas puasa kita lakukan dengan ngeblog. gak tahu manfaatnya apa...
tapi yang penting, ada niat untuk memperbaiki blog sendiri agar bisa dibaca orang. mudah-mudahan ada pahalanya.

Rabu, 18 Juli 2012

ribut awal puasa

MASALAH HILAL MENURUT HABIB USMAN BIN YAHYA
oleh : DR. Muhammad Noupal


Sekalipun Sayid Usman mengakui bahwa cara terbaik dalam menentukan permulaan bulan adalah dengan melihat langsung (ru`yah), tetapi ia tidak menolak perhitungan (hisâb) yang dilakukan oleh seseorang. Tetapi bagi Sayid Usman, “orang yang disebut hâsib adalah jika ia telah matang pelajarannya dan mujarrab (manjur) hisabnya sesuai dengan kedudukan bulan di manzilah-nya. Inilah yang disebut dengan hisâb yang qath’i (pasti). Hâsib sepert ini boleh berpuasa dengan hisâbnya. Jika hisâbnya mengatakan mustahil ru`yah, maka tertolaklah saksi-saksi yang adil yang mengaku telah melihat bulan”. Dengan kata lain, seseorang tidak boleh menghitung permulaan bulan tanpa memiliki persyaratan keilmuan yang dibutuhkan. Hal ini dapat kita lihat dari masukan Sayid Usman kepada para hakim dan mufti, bahwa “itsbât yang benar adalah itsbât yang syarat-syaratnya terpenuhi; sebaliknya itsbât yang batal adalah yang syarat-syaratnya tidak dipenuhi.
Perbedaan dalam menentukan permulaan bulan puasa atau lebaran dalam suatu daerah juga sangat diperhatikan Sayid Usman. Dalam hal ini ia berpendapat bahwa “jika hal itu disebabkan karena suatu daerah dapat melihat bulan tanpa ada yang menghalangi pandangannya, sedangkan daerah lain tidak dapat melihat bulan karena ada yang menghalanginya, maka kedua-duanya sah puasa dan lebarannya karena telah mengikuti aturan agama. Oleh karena itu kedua pihak satu sama lain tidak boleh saling menyalahkan atau saling menyuruh untuk ikut ke dalam pendapatnya.



Minggu, 15 Juli 2012

ziarah kubro


NILAI PENTING ZIARAH KUBRO
Oleh : DR. Muhammad Noupal
Dosen IAIN Palembang


Inti tulisan ini adalah untuk mengungkapkan nilai-nilai apa saja yang ada dalam ziarah kubro. Pertimbangannya didasari dari kenyataan bahwa selama ini, ziarah kubro di Palembang dengan ribuan peserta, tampak lebih bersifat seremonial; seperti sebuah kebiasaan. Tidak muncul nilai edukatif, historis dan kultural yang bisa diambil dalam ziarah ini. Sekalipun ada, mungkin hanya sebagian kecil—dan sangat  kecil—yang mampu dilihat oleh masyarakat peserta ziarah.
Ziarah kubro, seperti namanya adalah ziarah terbesar (kubro) yang dilakukan masyarakat Islam Palembang. Dimulai dengan cara mengunjungi (ziarah) kuburan para ulama dan habaib baik yang ada di Seberang Ulu atau Seberang Ilir, puncak acara dilakukan di pemakaman habaib Kambang Koci. Di sini, acara dilakukan dalam bentuk tahlil, doa-doa dan membaca maulud Nabi. Sebagai penutup, acara diisi dengan nasehat dan tausiyah kepada masyarakat.
Seperti namanya, ziarah kubro ini diikuti oleh ribuan peserta. Sebagian besar berasal dari kalangan masyarakat Arab; baik dari dalam atau luar Palembang, seperti Lampung, Jambi, Jakarta, Bandung dan Surabaya. Tapi ada juga yang berasal dari negara tetangga, seperti Malaysia, Brunei, Singapura dan Thailand. Tentu saja mereka masih berhubungan atau paling tidak masih bisa dikaitkan dengan keturunan Arab Palembang. Jadi, peserta ziarah kubro memang sangat beragam. Suatu kebanggaan bagi masyarakat Palembang bisa mengadakan acara seperti ini.

Nilai Apa Saja ?
Sekalipun ziarah ini diikuti banyak peserta dan pasti menelan biaya yang sangat besar, tapi kita harus mampu memunculkan nilai-nilai dalam ritual ini. Hal ini penting agar pelaksanaan ziarah kubro, yang sejak awal bersifat dan bermotif spiritual, tidak menjadi seremonial belaka. Ukuran yang bisa dilihat tentu saja dari aspek pemahaman atau penghayatan; walaupun untuk ini perlu dibuktikan secara ilmiah. Tapi bukan itu maksud tulisan ini.
Tulisan ini setidaknya melihat ada tiga nilai yang bisa kita jadikan pokok soal; yaitu nilai edukatif, historis dan kultural. Ketiga nilai ini—setidaknya menurut penulis—sangat berkaitan dan saling terhubung. Akan sangat berarti jika peserta ziarah mampu melihat nilai-nilai ini dan meletakkannya di depan seremonial ziarah tadi.
Yang dimaksud dengan nilai edukatif tentu saja berkaitan dengan nilai kependidikan. Nilai ini bisa kita ambil khususnya dari konsep awal ziarah kubro yang mengedepankan penghormatan kepada leluhur. Sekalipun bentuk edukasi ini tidak “membumi” dan malah lebih bersifat “melangit”, penghormatan kepada para leluhur lebih diajarkan dalam bentuk doa dan tahlil.
Ziarah kubur memang disyariatkan agama. Nabi sendiri menyuruh kita berziarah sebagai pengingat bahwa di sinilah nanti kita akan kembali. Ziarah dengan demikian adalah sarana untuk mengingat Allah. Idealnya, orang yang berziarah harus sadar bahwa yang ia lakukan adalah untuk zikrullah, ingat Allah. Karena itu, setiap prosesi ziarah kubro harus dijiwai dengan zikir dan doa, bukan dengan obrolan dan cerita. Apalagi yang menjadi tujuan ziarah kubro adalah para ulama dan habaib yang menjadi “wasilah” kepada Allah.
Sisi positif nilai ini terletak pada adanya pemahaman bahwa atas jasa leluhurlah kehidupan keagamaan kita hari ini dapat terus terjaga. Balas jasa—kalau boleh disebut—dilakukan dengan cara mengirim doa. Harapan semoga mereka diampuni dosanya oleh Allah lebih mengemuka ketimbang mengingatkan kembali pesan suci mereka. Inilah pembelajaran akhlak yang perlu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan ziarah kubro, memang bernilai akhlak.
Nilai historis mungkin tepatnya kita artikan dengan nilai kesejarahan; bahwa melalui ziarah kubro kita bisa mengambil ibroh (pelajaran) dari apa yang sudah terjadi pada masa lalu. Nilai ini mengharuskan kita melihat kembali bagaimana para leluhur itu ada dan berada pada masanya. Bahkan, nilai ini juga mewajibkan kita untuk mampu memahami bagaimana kondisi umat saat itu. Untuk itu diperlukan eksplorasi sejarah dari berbagai aspek kehidupan mereka yang tercatat dan terangkum dalam sejarah.
Sayangnya nilai historis ini tidak akan terwujud jika dalam ziarah kubro kita tidak pernah mencoba untuk mengungkap sejarah para leluhur. Tapi bagaimana mungkin sejarah mereka akan bisa diungkap jika kita sendiri tidak tahu bagaimana sejarah hidup mereka. Apalagi ketersediaan informasi dan buku sejarah yang menjadi sumber penting tentang mereka, tidak pernah kita tahu dan kita baca.
Karena itu, kita melihat bahwa nilai historis ziarah kubro selama ini tidak atau lebih tepatnya jarang muncul ke permukaan. Paling banter, hanya sebatas mitos dan cerita lisan tentang kekeramatan dan kedigjayaan; yang sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan keotentikannya. Mungkin ke depan, diperlukan satu usaha untuk mengkaji dan mendiskusikan sejarah hidup para leluhur agar nilai edukatif dan historis ziarah kubro dapat lebih bermakna.
Selain nilai edukatif dan nilai historis, nilai kultural ziarah kubro juga perlu kita ungkap. Nilai kultural atau nilai budaya ini adalah nilai-nilai yang lahir dan menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Islam secara luas. Nilai budaya tentu saja tidak hanya mewujud dalam “tradisi” yang lebih cenderung bersifat manusiawi. Tapi nilai budaya ziarah kubro seharusnya lebih mewujud dalam bentuk “pengalaman religius“; sebuah proses penghayatan akan nilai-nilai religiositas ziarah yang ada sejak awal sampai akhir acara. Inilah yang menjadi motif dan tujuan ziarah kubro.
Nilai kultural seperti ini idealnya menjadi pokok ziarah kubro. Bahwa ziarah kubro bukanlah ajang politik, proyek ekonomis bahkan kebanggaan genetik seharusnya menjiwai tahap demi tahap pelaksanaan ziarah. Untuk itu, pemahaman akan nilai-nilai yang ada dalam ziarah kubro bukan saja perlu dilakukan, tapi juga diajarkan kepada para peserta.
Untuk itulah proses kulturisasi ziarah kubro harus kita terjemahkan sebagai suatu proses pemahaman akan pentingnya ziarah kubro sebagai tradisi religius yang bermanfaat kepada masyarakat luas baik secara edukatif atau historis.
Pada akhirnya, nilai edukatif, historis dan kultural dalam tulisan ini hanyalah sebagian kecil dari nilai-nilai yang dapat kita tangkap. Akan ada banyak nilai lain yang seharusnya bisa kita lihat dan kembangkan. Karena itu, usaha untuk menggali dan mengeksplorasi nilai-nilai dalam ziarah kubro ini menjadi sangat penting dari sekedar menjadikannya “pawai budaya” dan “aset wisata”. Agar tercapai aspek spiritual ziarah kubro yang dicita-citakan.[]

Dr. Muhammad Noupal
Dosen IAIN Raden Fatah Palembang
Hp. 0858-4053-7123